Sabtu, 10 Oktober 2015

Fajar, I am in love

 
taken by ma mobile phone, at Mangunan

Malam ini langit tak berbintang, sedang bulan pun enggan datang.. Mungkin bulan enggan muncul karena dirinya resah akan pagi yang akan mengusik mimpi lelap para anak manusia... Bulan resah pabila keelokannya tersaingi oleh mentari  yang perlahan, namun pasti menarik perhatian mata-mata pengagum keindahan langit pagi.. Tak dapat dipungkiri bahwa kemolekan mentari pagi dikala embun masih menggoda mataku terlalu mempesona untuk diacuhkan.. Proses kembalinya ia keperaduan sungguh membuatku ingin menghentikan waktu sejenak, agar dapatku nikmati kedatangannya dengan syahdu..  
Aku adalah seorang pengagum senja. Namun, bukan berarti aku membenci fajar.. Karena aku beranggapan bahwa senja dan fajar adalah kembar tak identik yang diciptakan Tuhan. Sehingga tak ada niatan sedikit pun tuk membenci salah satunya.. Aku adalah penggila keduanya, sungguh damai jika melihat senja dan fajar. Segala urusan dunia terlupakan dan aku merasa seperti Tuhan menyapaku dengan senyum termanis yang tak ada 1 pun kutemukan pada diri manusia.
Foto tersebut adalah kenangan awal pertemuanku dengan fajar.. Sejak awal perjumpaan kami, ia telah menarik perhatianku dengan keramahan dan pesonanya.. Indah dan damai, sungguh jika ada kata yang lebih dari itu aku sangat membutuhkannya.. Darinya aku mengerti akan sebuah rasa syukur dan betapa beruntungnya bahwasannya Allah masih memberikan helaan nafas hingga saat ini.. Fajar mengajarkan aku tentang proses yang tidaklah singkat, karna butuh waktu bagi mentari untuk kembali keperaduannya; bahwa fajar butuh detikkan jarum jam untuk memberikan keindahannya.. Ia memberikan kesempatan pada para pengagumnya untuk tersenyum dan berbahagia sejenak diantara relung-relung luka dan lara yang hidup abadi dalam roda kehidupan melalui keindahannya..
Kerinduan masih saja menggantung diruas-ruas perasaan dan pikiraanku.. masih  terkenang indah fajar yang menyapa kami dengan ramah kala itu, membuatku kecanduan untuk menikmati indahnya fajar.. aku masih belum lelah untuk terus berlari dan mencari kemana fajar menyingsir.. aku masih setia menjadi fans fanatiknya, menjadi pengagum yang takkan beralih ke lain hati..
Terimakasih fajar, telah mengajari aku untuk terus gigih berdiri mengahadapi perih yang tak bertepi.. Tetap berusaha melangkah dan bangkit dari pahit dan getirnya kehidupan yang penuh teka-teki..

Ingatan Lalu




Sejenak terlintas kenangan lalu
yang di hiasi putih abu-abu
Gelak tawa dan canda menderu
Bak sebuah drama yang berlalu
Kesedihan serasa mengendalikan masa itu
Masih ku ingat jelas rasa sakit itu

takkan pernah hilang dari memori
Pria yang dulu ku sayangi
tapi ternyata tak berjdoh dengan hati
Bukan aku tak peduli lagi
Tapi kini kusadar diri
semua yang membuatku berdiri disini
menjadi wanita yang lebih tegar dan mandiri 

terimakasih teruntuk semuanya
akhirnya aku menyadarinya
saat ini aku tak menyesalinya
semoga kita masih dapat berteman seperti sedia kala

Awang-awang




Terpaku mendekap malu
Terkungkung dalam kekesalan
Terguncang menahan kecaman
Tertatih mencoba meraih

Diam serasa menyelam
Buaian menjadi serangan
Kepercayaan pun terabaikan
Membuahkan kekecewaan

Semak belukar menjalar
Menjerat dan mengikat
Teriak ku tak berarti
Sesak seisi hati

Luka membutakan cinta
Merangkak menggapai pundak

Ku coba kuatkan hati
Dan berdoa pada ilahi
Cinta menjadi berarti

IBU



Ketika awan mendung menyelimuti hati

Sesosok surga masih setia menyinari

Kala ombak menggulung laraku

Kau hempaskan dengan nasihatmu

 

Yang lain berhenti mencintai

Kau selalu menanti

Belaian mu meneduhkan hati

Yang takkan pernah terganti

 

Menitipkan doa melalui angin

Mencerca jarak yang memisahkan

Bercumbu dengan kerinduan

Pada nama yang tersemat dalam pikiran